
Rapat pengarahan Gubernur Sumsel kepada para pejabat lingkungan Pemprov Sumsel, Senin (1/3), mendadak diganti menjadi tes urine, tak pelak para pejabat Pemprov Sumsel terkejut.
Dalam sambutan singkat Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin, mengatakan, tes urine para pejabat pemerintahan pernah dilakukannya sekitar 1.000 pejabat di Muba. “Selanjutnya, yang ada diruangan ini, tidak boleh keluar karena akan diadakan tes urine,” kata Gubernur singkat.
Disela tes urine, Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin mengatakan, tes urine akan dilakukan setiap tahun, kemarin tes memang dilakukan secara dadakan, untuk mengecek pejabat dari eselon I seperti sampai eselon III di lingkungan Pemprov Sumsel, apakah mengkonsumsi narkoba, karena para pejabat pemprov harus menjadi contoh bagi pegawai lain dan masyarakat yang dipimpinnya.
Ditegaskan Gubernur, bagi yang ketahuan positif menggunakan narkoba untuk tidak menggunakannya lagi, namun akan menerima resiko dikenakan sanksi yaitu tindakan hukum dan sanksi administrasi. “Dalam satu menit urine di tes sudah dapat diketahui hasilnya, sehingga langsung diketahui siapa yang kena, sekarang sudah ada yang terindikasi dan akan ditindak lanjuti, hasil sementara memang sudah ada yang positif,” katanya.
Namun menurut Alex, beberapa pejabat yang terindikasi positif tersebut belum tentu positif menggunakan narkoba, karena banyak yang mengonsumsi sejumlah obatan seperti obat jantung, untuk itu akan dilakukan tes darah. Gubernur mengaku, mencurigai sejumlah pejabat yang mengonsumsi narkoba, namun ketika diadakan tes pejabat tersebut tidak hadir. “Saya gak main-main, bagi pejabat yang tidak hadir hari ini, akan dicarikan waktu yang tepat untuk dilakukan tes lagi, agar mereka tidak dapat mengelak. Gubernur saja di tes, tapi saya merokok saja tidak, dan Insya Allah tidak kena,” jelas dia.
Ditempat yang sama Ketua BNP SUmsel, Chozali Hanan, menjelaskan, rencananya jumlah pejabat yang dites urine kemarin yaitu pejabat eselon II 49 orang dan pejabat eselon III 245 orang, dengan total 294 orang yang dites. “Tapi, ini belum tentu ini hadir semua,” jelasnya.
Dijelaskan Chozali, teknik pemeriksaan yang dilakukan, pertama dilakukan pendataan, pejabat lalu mengisi blanko serta absensi, dan mencantumkan jenis obat jika yang bersangkutan mengonsumsi obat, karena akan mempengaruhi air seni, pejabat lalu membawa tabung urine ke dalam toilet untuk diisi air seni, baru diserahkan ke laboratorium yang diuji paramedis dari RS Ernaldi Bahar dan Direktorat Narkoba Polda Sumsel, selang beberapa menit sudah dapat dilihat hasil apakah pejabat tersebut terindikasi atau tidak.
“Kalau ada yang terindikasi, itu belum dikatakan positif terkena narkoba, karena masih akan dilakukan penertiban lebih lanjut yaitu tes darah. Data sementara ada empat laki-laki dan empat perempuan, yang terindikasi terpengaruh mengonsumsi obat, sehingga harus dites darah hari ini juga (kemarin-red), untuk diketahui sejauh mana ketergantungan terhadap obat itu,” katanya.
Disela tes, Dir Narkoba Polda Sumsel, Kombespol Teguh Prayitno mengatakan, petugas yang diturunkan Dit Narkoba 24 orang, ditambah Petugas Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Bidokes) Polda 6 orang total 30 orang. Menurut dia, pihaknya tidak memiliki hak untuk mempublikasikan jumlah yang terindikasi positif, kalaupun ada terindikasi positif, masih dikatakan positif reaktif artinya positif karena beberapa faktor. “Nanti akan dilihat lagi dan diambil darah, ditanya mengonsumsi obat apa, kalau ternyata bertentangan tidak menutup kemunkinan dilakukan pemeriksaan lanjutan,” ujarnya.
Menurut Teguh, saat tes ada empat pejabat yang namanya ada didaftar namun tidak ada orangnya, kemungkinan ada pekerjaan atau memang menghindar dari tes, namun kepastian alasannya masih dikroscek.
Gubernur Sumsel H Alex Noerdin didampingi Wagub Sumsel H Eddy Yusuf dan Sekda Musyrif Suwardi, Senin (1/3) memimpin langsung Pelaksanaan Tes Urine bagi Pejabat Eselon II dan III dilingkungan Pemprov Sumsel.