
Alex Diminta Mendiknas Bicara Sekolah Gratis
Gubernur Sumsel H Alex Noerdin bersama Mendiknas usai memberikan Paparan pada Diskusi Finalisasi Renstra Pendidikan tahun 2010-2014 di Depdiknas Jakarta, Selasa (19/11
Jakarta, BP
Sukses Gubernur Sumsel H Alex Noerdin sebagai pelopor sekolah gratis, membuat dirinya diundang khusus Mendiknas Prof Dr Ir Muhammad Nuh untuk bicara soal sekolah gratis.
Alex Noerdin diminta masukan-masukan mengenai penyusunan rencana strategis Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) 2010-2014, terutama soal pengalaman mengelola sekolah gratis di Sumsel. Apalagi Alex sejak menjadi Bupati Muba telah menerapkan sekolah gratis.
Usai memberikan paparannya guna penyusunan Renstra Depdiknas 2010-2014 tersebut, Alex langsung diterima Mendiknas, Prof Dr Ir Muhammad Nuh di Kantor Depertemen Pendidikan Nasional, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (10/11).
Menurut Alex, pengalaman sekolah gratis ini sejak dia menjabat sebagai Bupati Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. "Pertama memang banyak yang menentang soal pendidikan gratis, tapi setelah mereka memahami akhirnya program pendidikan gratis bisa diterima masyarakat," tambahnya.
Awalnya, kata Alex, memang terjadi prokontra, misalnya guru akan terkurangi pendapatannya, mutu pendidikan gratis tak bagus. "Namun semua itu, saya bisa yakinkan bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan, maka yang pertama perlu diperhatikan adalah kesejahteraan guru. Maka guru dulu disejahterakan," terangnya.
Tidak perlu khawatir soal mutu sekolah gratis, lanjutnya, konsepnya awalnya adalah yang penting jangan sampai anak-anak tak bersekolah, berkeliaran di jalanan, hanya karena orang tuanya tidak mampu. "Jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak sekolah, hanya soal biaya, karena sekarang sudah gratis. Nah, sambil berjalan soal mutu kita perbaiki kekurangannya," jelas Alex yang mendapat apresiasi dari peserta diskusi.
Adapun peserta diskusi yang berjumlah sekitar 30 orang itu sebagian besar adalah intelektual, Rektor, praktisi pendidikan, staf khusus Mendiknas Prof Dr Ir Abdullah Alkaff dan pakar marketing Hermawan Kertajaya, dan Dirjen Pendidikan Islam (Depag), Prof Dr Muhammad Ali.
Lebih jauh kata Alex, kunci kesuksesan mengelola pendidikan gratis itu terletak kemampuan Gubernur dalam mengkoordinasikan dengan para bupati dan walikota. "Sumsel memiliki 15 Kabupaten/kota, jadi ini soal bagaimana kemampuan Gubernur melakukan koordinasi dengan para bupati/walikota. Ditempat lain kemungkinan saja, ada masalah soal koordinasi ini, tapi di Sumsel tidak ada," paparnya.
Dikatakan Alex, pengelolaan sekolah gratis itu bisa dibiayai dari APBN dan ditambah dengan ABPD Provinsi dan APBD Kabupaten/kota. "Kalau menggunakan dana APBD Provinsi saja tak cukup, karena itu perlu keterlibatan bupati/walikota dalam APBD-nya masing-masing. Karena itu anggota DPRD, bupati dan walikota yang tak mendukung sekolah gratis, alias tak prorakyat, saya kampanyekan tak usah dipilih lagi," tegasnya.
Namun, ungkap Alex, program sekolah gratis ini tak selamanya dilaksanakan. "Program ini tak selamanya dilaksanakan. Nanti kalau pendapat masyarakat sudah di atas rata-rata, maka subsidi untuk sekolah gratis itu akan dicabut," tukasnya.
Langkah Alex mendapat pujian dari para praktisi pendidikan, termasuk pakar marketing internasional, Dr Hermawan Kertajaya yang hadir dalam Fokus Group on Discus (FGD).
Menurutnya, propinsi di Indonesia akan banyak mengalami kemajuan kalau dipimpin Gubernur seperti Alex Noerdin. "Inilah sebenarnya yang
diperlukan Indonesia, pemimpin yang birokrat dan sekaligus entreprenuer. Mereka menjalankan program, tak perlu menunggu juklak dan juknis.
Yang penting itu targetnya rakyat," ucapnya.
Ahli marketing FE UI itu mengaku ingin membantu dan melengkapi langkah Gubernur Sumsel, Alex Noerdin dalam mengembangkan proyek sekolah gratis. "Yang jelas, branding (trade mark) dari sekolah gratis perlu disempurnakan, sehingga bisa dipahami secara utuh oleh masyarakat," terangnya. Hermawan yang sering memberikan nasihat pada pemerintahan Malaysia menilai Alex sebagai negarawan pendidikan. /eko